Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi tentang air mata kopi

Di dalam merekah matahari pagi, tergugahlah sesuatu, Sebutannya adalah air mata kopi, itu datang menggenangi dunia. Dalam sepenggal puisi, ia berbisik kata-kata. Sebagai pembela petani kopi, ia menyampaikan pesan kehidupan.

Air mata kopi, benih kehidupan yang merembes dari tanah, Dipupuk dengan keringat dan cinta petani yang tak terukur. Mereka merawat kopi dengan setia, seiring berlalunya waktu, Menyisir hamparan kebun, mencintai setiap tangkai yang merekah.

Air mata kopi, remang-remang di kala senja tiba, Berharap terdiangkut dalam secangkir penghangat jiwaku. Taburan rempah di setiap tetes yang membasahi bibir, Mengantar rasa dalam gelas, kopi yang membuat hidup hidup.

Keajaiban dalam setiap tegukan, kenikmatan dalam setiap goresan lidah, Air mata kopi, jangan pernah kamu berhenti mengalir. Pueh sayang, pueh sayang, kini kita bersama, Air mata kopi, sang penyembuh sepi dan rimba.

Ragang-ragang di ranting pohon kopi, angin pun melambai, Beraksi dalam keindahannya, memainkan simfoni tanah. Air mata kopi, sepenuh hati kau mengalir, Menerabas kerikil, meredakan sakit dan lara.

Pada hari-hari pelik, saat segalanya berat menekan, Air mata kopi, kau mengelus jiwaku dengan nada yang lembut. Mendingin ragaku, menghangatkan dadaku, Di saat itu, aku takkan pernah merasa sendiri.

Petani kopi, pemelihara air mata di matahari terik, Karya cintamu terukir dalam setiap hiruk-pikuk dunia. Kau berjuang dengan tangan yang lelah, hati yang tulus, Menjemur benih harapan, menuai cerita yang menyentuh.

Air mata kopi, harum wangi yang membelah waktu, Seperti rahasia yang terkatup, disimpan dalam setiap biji. Repa maja jantuang, indak basiah maja kato, Ia menyedapkan hidup, memberi rasa dalam peluk.

Air mata kopi, berpadu dalam irama cinta, Menghentak petani, menginspirasi penyair bercengkrama. Dalam gelak canda dan kata-kata yang ditulis indah, Ia mengangkat derajat petani, tak lagi terlihat sebatas debu.

Air mata kopi, ladang mata yang mengalir di bibir, Menggugah indra, menyelami laboratorium perasaan. Aku tenggelam dalam setiap tetes hikmahmu, Terbius dalam kerinduan, terbang bersamamu di angkasa.

Air mata kopi, saksi bisu dari perjalanan waktu, Mengajari kita tentang pahit manis kehidupan. Pada setiap tegukan, kita menghormat dan merasakan, Keindahan yang tak terhingga, dalam secangkir kopi bersama.

Marilah kita menulis kisahnya, di setiap padang hijau, Dalam setiap tetes rindu, air mata kopi menemaniku. Aku mencintaimu, seperti kau mencintaiku, Saling bernyanyi dalam puisi serupa, selamanya kita bersatu.

Air mata kopi, begitu dalam pesonamu, Kau mengajarkan arti kehidupan, menyentuh jiwaku. Terima kasih, petani kopi, atas karya yang kau rintis, Air mata kopi, janji untuk selalu abadi di dalam diriku.




Widyanuari Eko Putra: MEMBELA PETANI KOPI LEWAT PUISI



Widyanuari Eko Putra: MEMBELA PETANI KOPI LEWAT PUISI

widyanuariekoputra.blogspot.com

kopi mata puisi petani buku putra membela eko lewat kepada


Bella Sungkawa
Bella Sungkawa Hai saya Bella Sungkawa, individu multifaset dengan hasrat untuk menjelajahi dunia, tetap aktif, dan menikmati pengalaman sinematik. Pelajari lebih lanjut tentang dia di blognya.

Posting Komentar untuk "Puisi tentang air mata kopi"