Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi tentang air mata buaya

Air Mata Buaya

Kisah tentang sejuta makna, Tersembunyi di balik kata "air mata buaya", Seperti riak air yang mengalir dengan anggun, Melipat rasa dalam perjalanan panjangnya.

Sepotong Indonesia yang tersembunyi, Dalam jejak ruang dan waktu yang melampaui, Air mata yang mengalir di alam yang tercipta, Meneteskan curahan hati dalam tak terungkap.

Mengenang kembali, air itu tak sungguh benar, Bagai mata yang berlinang dalam semu kehidupan, Namun banyak yang belum tahu, Mengapa istilah itu dikaitkan dengan kepura-puraan.

Singgahlah sejenak, mari kita pulang, Ke masa lalu yang terukir dalam benak, Hari-hari remaja di alun waktu, Memperlihatkan kisah tentang cempreng dan halus.

Air mata buaya, gelak tawa yang menggetarkan, Mengalir di sudut mata yang mengabarkan, Dalam setiap ekspresi yang terpahat, Tinggalkan jejak dalam setiap detak.

Sebenarnya, takdir mempertemukan kita semua, Dalam sebuah kata yang mencuri perhatian, Seolah bahasa diciptakan untuk menghiasi, Dengan inspirasi yang tak terlukis dalam karya seni.

Air mata buaya, bukti ketidakjujuran, Di dunia yang tak selalu harus jujur, Meluapkan perasaan yang bersembunyi, Dalam setiap senyum palsu yang terdengar nyata.

Ada yang menyebutnya sebagai tipuan, Sebuah kampakan yang tak bisa diserahkan, Namun, dalam kedalaman hati yang dulu terlarut, Air itu hadir untuk mewakili bagian kita yang terluka.

Seperti bencana alam yang menjungkirbalikkan, Rasa dalam diri yang tak terbendung berputar, Air mata buaya adalah lukisan temporer, Menghilang saat senyum yang terpaksa terselip.

Air mata buaya, imaji dari satu wajah, Percaya padanya adalah panggilan tak terjawab, Namun tak semua paham, tak semua sudi, Hadir dalam momen yang datang menghampiri.

Sang Dewi Laut melihat dengan duka, Airnya yang jernih jadi isi buana, Air mata yang tertumpah tak tepat pada sasaran, Membiarkan airnya terjatuh tanpa sekat atau samaran.

Betapa anehnya, begitu dekat sekaligus jauh, Air itu menjadi penanda di tengah-tengah kisah, Apakah benar "buaya" memiliki koneksi erat, Atau benarkah hanya cerita yang tak mengenyat?

Seiring tahun berganti, soal tak lagi serupa, Air mata buaya memudar di sebagian, Namun dalam hati yang masih terluka, Air itu tetap mengalir, membanjiri perjalanan.

Hati manusia adalah tempat untuk berteduh, Dalam rintangan dan amukan khayalan, Air mata buaya, menghiasi lorong-lorong hati, Dalam setiap langkah perjalanan yang merangkai.

Tak semua suka, tak semua suci, Terkubur dalam kata "air mata buaya", Namun jangan lupakan, di sana ada makna, Tersimpan dalam harapan yang masih tersembunyi.




Alasan Mengapa Istilah Air Mata Buaya Dianggap Sebagai Kepura-puraan



Alasan Mengapa Istilah Air Mata Buaya Dianggap Sebagai Kepura-puraan

juragancipir.com

buaya mata istilah alasan dianggap mengapa sedih bukan pura kepura puraan kesedihan


Bella Sungkawa
Bella Sungkawa Hai saya Bella Sungkawa, individu multifaset dengan hasrat untuk menjelajahi dunia, tetap aktif, dan menikmati pengalaman sinematik. Pelajari lebih lanjut tentang dia di blognya.

Posting Komentar untuk "Puisi tentang air mata buaya"